Selamat Jalan dr. Dionisius Giri Samudra, kiranya amal ibadahmu di terima oleh Tuhan. Berikut ada beberapa klipingan berita mengenai Dr. Dionisius, dan juga komen saya seputar berita-berita ini.

Tak Ada Biaya Evakuasi, Dokter Muda Ini Dikabarkan Meninggal Saat Bekerja di Kepulauan Aru

2358290Peta-Kepulauan-Aru780x390
AMBON, KOMPAS.com – Dionisius Giri Samudra, dokter yang sedang mengikuti program magang di RS Cenderawasih, Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, dikabarkan meninggal dunia di lokasi tugasnya.

“Selamat jalan Dr. Dionisius Giri Samudra. Satu lagi dokter meninggal di tempat tugas,” demikian ditulis Bambang Budiono, dokter Rumah Sakit Awal Bros, Makassar, Sulawesi Selatan, lewat akun Facebook-nya, Rabu (11/11/2015) sekitar pukul 18.25 Wita.

Sebelum dikabarkan meninggal dunia, dokter muda asal Makassar itu menderita demam ditambah penurunan kesadaran dan trombositnya.

Dia tak dapat ditangani dokter di tempat kerjanya sebab fasilitas yang sangat terbatas sehingga harus dirujuk. Dia dirujuk setidaknya ke rumah sakit di Makassar, kampung halamannya.

Sejumlah rekannya sesama dokter telah berusaha mencarikan solusi Dionisius cepat dirujuk, namun sulitnya alat transportasi menjadi kendala.

Perjalanan dari Dobo, ibu kota Kabupaten Aru ke Ambon, ibu kota Provinsi Maluku, jika menggunakan pesawat udara membutuhkan waktu hingga 3,5 jam.

Namun, jadwal penerbangan dari Dobo menuju Ambon tidak menentu. Jika menggunakan kapal laut maka waktu tempuh akan jauh lebih lama.

“Namun ada kendala dalam hal biaya untuk evakuasinya…selain itu juga mengenai pesawat yang akan menjemput ke sana…,” tulis dokter Bambang masih melalui akun Facebook-nya.

Jika dokter Dionisius harus dievakuasi menggunakan biaya sendiri dipastikan sangat sulit. Sebab, berdasarkan informasi yang diperoleh, gaji dokter peserta program magang hanya sekitar Rp 2,5 juta.

Dionisius mulai bertugas di RS Cenderawasih, Juni 2015, sesuai informasi yang diunggah lewat akun Facebook-nya.

Sumber: Kompas

Miris membacanya, teringat teman-teman dokter Internship yang sering saya ketemui di Klinik saya di Balikpapan, ada yang harus naik speedboat untuk ke Balikpapan, perjalanan 12 jam lewat darat dan lain-lain.

Sistem pendidikan dokter yang sekarang adalah: Lulus sebagai dokter setelah 5 tahun pendidikan, kemudian dilanjutkan Internship setahun. Bahkan ada pusat pendidikan yang masih menggunakan masa pendidikan selama 6 tahun, plus dilanjutkan Intership setahun lagi, jadi total 7 tahun.

Gajinya lumayan alakadarnya, di berita sih katanya 2.5 jt, tapi ada juga saya pernah baca sekitar 1.2jt/bulan. Lebih rendah dari UMR Jakarta ya? Jadi ingat ketika saya dulu kerja sebagai Dokter umum di salah satu rumah sakit pemerintah di Jakarta, gaji pokok saya waktu itu lebih rendah dari gaji cleaning service. Berapa tebakan Dokulers? 2jt? 1jt? Hehe gaji pokok saya waktu itu adalah 350.000 rupiah 😀 Dr.Lusia dulu sempat jaga di klinik di Tangerang, itu dapatnya ya mirip-mirip si tukang parkir kliniknya dari dr.Lusia, berapa? dua ribu per pasien Hehe

Sulit Dievakuasi, Dokter PTT Meninggal di Kepulauan Aru

dionisius-giri-samudra_20151111_210125
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Seorang dokter yang menjadi pegawai tidak tetap (PTT) di RS Cendrawasih, Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, Dionisius Giri Samudra, meninggal dunia. Dokter yang tengah menjalankan program internship ini meninggal dunia, Rabu (11/11) sekitar pukul 18.00 waktu setempat.

Mirisnya, dia meninggal di RS tempatnya bertugas di antara kawan-kawan sejawatnya yang berupaya keras mengevakuasinya ke rumah sakit yang lebih lengkap peralatan medisnya, namun tak berhasil. Sulitnya akses dari lokasi tempat tugas dokter Dionisius menjadi salah satu kendala. Akses tercepat dari Dobo menuju ke Maluku, harus ditempuh dengan pesawat selama 3,5 jam. Itupun dengan jadwal penerbangan yang tak menentu.

Kabar kematian dokter muda asal Makassar ini dengan cepat menyebar luas di media sosial. Sebelum Dionisius wafat, Bambang Budiono, dokter senior di RS Awal Bros Makassar menulis di akunnya Facebook-nya dan meminta siapa pun yang memiliki jaringan ke Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk menyebarkan informasi tersebut.

“Ada seorang dokter yang sedang internship di RSUD Dobo Maluku Tenggara, Kepulauan Aru. Dalam keadaan febris, penurunan kesadaran, trombosit sudah 50 ribu. Namun ada kendala dalam hal biaya untuk evakuasinya. Selain itu juga mengenai pesawat yang akan menjemput ke sana. Kasihan sekali dokter yang sedang internship tersebut. Kondisinya mulai menurun. Kira-kira Kemenkes atau IDI bisa bantukah?” demikian tulis Bambang di akun -nya beberapa jam sebelum dokter Dionisius wafat.

Sumber: Republika

Kondisi di luar Jawa Sumatra memang seperti itu sih, di dalam kotanya sih lumayan, infrastruktur lumayan. Tapi keluar dari Kota? wah wah. contohnya aja Balikpapan-Samarinda, 100Km-an saja. kalau pake Toll cepet lah ya, mungkin 1-1.5 jam dah sampai, nah tapi kalau disini sih karena jalanannya cuman muat 2 mobil (1 mobil di tiap jalur), jadi ya dari Balikpapan ke Samarinda itu biasanya perlu 3 jam. itu yang mendingan tuh, lebihnya dari Samarinda ke utara, wah jalanannya lebih seru lagi, lubang, jalanan ancur, wah seru deh, saya cuma pernah sekali ke utara lagi dari Samarinda, itu pun yang jalanannya paling mending, wah kapok deh, ga mau lagi. Tapi ya begitulah kondisi disini. Pinter pula pemda kalau ada petinggi-petinggi dari Jakarta datang dan mau berkunjung ke samarinda atau yang lebih utaranya, dinaikkan Helikopter biar ga usah lihat jalur darat! Jujur ga kebayang saya kondisi di Kepulauan Aru, kalau di sini aja seperti itu.

Jadi kondisi yang dialami dr. Dionisius ini dicurigai adalah campak yang berkomplikasi mengenai otak. Iyah, campak biasa yang kita ketahui itu, yang sering mengenai anak-anak, dia memang bisa mengenai otak, walaupun jarang (dikatakan kemungkinan kena komplikasi ke otak adalah sekitar 1 orang dari 1000 orang yang terkena campak). Campak umumnya mengenai anak dibawah 5 tahun, ataupun orang dewasa diatas 20 tahun.

Campak itu penyakit yang ringan-ringan berat, disebabkan oleh virus, bisa sembuh sendiri. yang umum adalah berupa merah-merah dengan demam, batuk pilek, terkadang diare dan mata merah. Nah tapi secara statistik 1 dari 4 orang yang terkena campak biasanya berakhir dirawat di RS, dan 1 dari 1000 orang yang menderita campak berakhir dengan kematian akibat komplikasi dari si campak ini (sumber: www.cdc.gov) . Komplikasi yang paling sering dari campak ini adalah pneumonia/peradangan paru.

Vaksinisasi Campak mempunyai angka perlindungan yang lumaya tinggi, yaitu 93%. Namun si Vaksin MMR  (Measles Mumps Rubella) ini pernah mendapatkan rumor yang tidak baik yaitu dikatakan menyebabkan Autisme, sehingga membuat orang ketakutan untuk di vaksin MMR. Rumor ini masih ditakuti sampai sekarang. Mungkin dokulers belum tahu, bahwa penelitian yang menyatukan bahwa vaksin campak dapat menyebabkan Autisme itu sudah diperiksa ulang oleh grup ahli, dan dinyatakan bahwa penelitian tersebut cacat, sehingga penelitian tersebut ditarik, dan dokter yang mengadakan penelitian palsu tersebut dicabut ijin prakteknya (sumber: http://www.immunize.org/catg.d/p4026.pdf). Jadi jangan takut untuk memvaksin campak/measles/morbilli untuk buah hati Anda. Mencegah adalah lebih baik daripada mengobati

Tetap Dalam Jiwa; dr. Dionisius Giri Samoedra

img_4267e

Masih lekat di ingatan saat kau meneleponku sore itu. Hujan. Sangat deras. Dan tentu saja dingin. Aku masih di Sorong. Berlibur di rumah orang tuaku, sekaligus menanti pengumuman UKMPPD yang sangat mendebarkan. Kau meneleponku. Bertanya apa kabarku. Ah, itu pertanyaan biasa yang kau tanyakan padaku setiap minggunya. Aku pun menjawab baik saja. Kita pun mulai bercerita. Mulai dari hal yang remeh hingga yang paling remeh. Oke, kita berdua memang jarang membahas sesuatu yang serius. Namun sore itu, kau sepertinya agak gelisah.

Kau bertanya padaku, jika lulus, di manakah aku akan memilih tempat mengabdi untuk satu tahun nanti. Aku pun tertawa, mengatakan bahwa itu bisa dipikirkan nanti. Kau menggerutu, tak suka dengan jawabanku. Aku pun menjawab, di manapun tempat bertugasku nanti, yang penting bisa bersama sahabat-sahabat baikku. Aku pun balik bertanya bagaimana denganmu yang harus memilih tempat internsip sebentar lagi. Kau kan lebih dulu lulus daripadaku. Namun kau justru menjawab sebaliknya. Kau lebih memilih ditempatkan di daerah yang tak ada seorangpun kau kenal. Kau memilih untuk mengenal orang-orang baru. Daerah baru. Dan tentu saja pengalaman baru.

Sedikit tertawa, aku mencemoohmu. Mengatakan kau terlalu idealis. Coba saja kalau kau bisa! Tantangku. Dan itu kau lakukan. Kau memilih mengabdi di Kepulauan Aru. Daerah yang bahkan jika disebutkan, orang yang mengaku sebagai warga negara indonesia pun masih mengerutkan dahi dan berpikir, “Di manakah itu?”.

Ketika mengetahui kau mendapatkan tempat internsip di sana, aku pun segera menghubungimu. Meneleponmu berkali-kali hingga kau menggeser tanda hijau pada layar smartphonemu. Menceramahimu karena memilih di sana. Namun juga menyemangatimu untuk terus melanjutkan. Masih kuingat jelas kata-kataku saat itu, “Kenapa ndakko pilih di Jayapura atau Wamena saja sekalian? Setidaknya transportasi ke sana jauh lebih mudah didapatkan.” Dan tidak kusangka, ternyata hal itulah yang menjadi masalah ketika kau sakit hingga muncullah tulisanku ini.

Beberapa bulan setelah kau menjalani tugasmu di sana, aku masih sering menggodamu karena susahnya jaringan internet di sana. Aku menggodamu, karena harga makanan yang sangat mahal di sana. Aku menggodamu, karena kau tak dapat berenang, tapi harus menaiki kapal ke sana ke mari. Aku terus menggodamu, berharap kau mengucapkan kata “menyesal”. Namun itu tak kau lakukan. Kau justru dengan semangat bercerita padaku mengenai pasien-pasienmu di sana, mengenai alamnya yang masih sangat perawan, mengenai teman-teman internsipmu, mengenai semua hal yang membuatku berpikir, “Ah, aku pun ingin mengabdi di tempat yang demikian.”

Seminggu yang lalu, kau meneleponku, tentu saja selalu dengan nada manjamu. “Kau nah Kyong, ndak pernahko telponka kalau bukan saya yang telponko. Apa ko sibuki kah? Ndak rindu ko sama saya?”. Sumpah, demi Tuhan. Ndra, aku teramat rindu padamu. Sangat rindu. Aku rindu padamu yang selalu memanggil namaku dengan sebutan “Kyong” dengan nada manja. Aku rindu padamu yang selalu punya jawaban atas segala pertanyaan ajaibku mengenai kedokteran. Aku rindu padamu! Dan tak kusangka itu menjadi percakapan terakhir kita. Sesalku hingga sekarang, aku bahkan tak sempat bertemu denganmu di bandara saat kau kembali ke Dobo meskipun kau mengatakan akan transit di Makassar beberapa saat.

Aku tak tahu lagi, seberapa bengkak mataku saat menulis tulisan ini. Aku sudah tak tahu lagi, kira-kira berapa banyak air mata yang dapat kuteteskan setelah hari ini. Karena rasanya, ia terus mengalir. Tak mau berhenti. Ah, tak bisakah kau saja yang hentikan aliran sungai kecil di mataku, Ndra? Sungguh, aku sangat menderita.

Mengapa semua yang kuingat tentangmu malah membuatku menangis? Bukankah yang selalu kita lakukan hanyalah tertawa dan merencanakan hal-hal yang aneh? Kau bahkan bercita-cita ingin ke Swiss dan makan cokelat sebanyak-banyaknya. Tapi mengapa ingatan tentang hal konyol seperti itu tetap mampu mengalirkan air mataku? Aku ingat kau ingin melanjutkan sekolah spesialismu. Aku ingat ibumu yang sangat bangga padamu. Aku ingat kita sering bercerita mengenai akan seperti apa anak-anak kita kelak. Aku ingat mimpi-mimpi konyol yang sering kita perbincangkan di saat senggang. Tahukah kau? Meskipun aku tak pernah menanggapinya serius, aku sungguh berpikir mimpi konyol itu bisa diwujudkan. Aku pikir, kita bisa mewujudkannya. Karena itu mimpimu. Mimpi kita.

Kau bukan hanya seorang sahabat, Ndra. Tapi kau adalah keluarga. Pernahkah aku mengatakan bahwa aku sangat sayang padamu? Jika belum, semoga saja kau tahu itu tanpa perlu aku katakan. Kami semua sayang padamu. Kami semua selalu mendoakan segala yang terbaik untukmu. Semoga kau tenang di sana, Ndra. Mungkin ragamu tak dapat lagi kupeluk hangat. Namun semua tentangmu akan kekal di ingatan. Di ingatan kami semua. Sahabat-sahabatmu yang menyayangimu. Selamat jalan. :’)

sumber: Blog Dr.Kiky

 

Dokter juga manusia, Selamat Jalan Dr. Dionisius, Salam hormat dari Kami