Apakah Kita Perlu Detoks?
Oleh Dr. Handrawan Nadesul

Detoksifikasi sesungguhnya proses alami di dalam tubuh untuk mengeluarkan racun sisa pembakaran atau metabolisme. Tujuannya untuk mengembalikan keseimbangan kimiawi tubuh atau homestasis. Itu yang terjadi pada tubuh orang dulu. Kelebihan mengonsumsi daging pada orang sekarang dan sejenisnya yang acap terjadi pada orang sekarang, misalnya, menjadikan tubuh cenderung bersifat asam. Perlu upaya homeostasis tubuh menetralisir agar kembali seimbang.

Orang sekarang, toxin atau racun tubuhnya bukan hanya dari sisa pembakaran tubuh biotoxin yang harus dikeluarkan dari tubuhnya, melainkan ada juga beberapa racun lain buatan manusia (man-made toxin) memproduksi xenobiotic yang kita sebut toxicant. Ia bisa berasal dari aneka bahan kimia seperti pestisida, zat additive makanan dan minuman, selain obat-obatan, serta alkohol.

Secara alami tubuh sendiri sudah memiliki mekanisme untuk mengeluarkan racun, dengan sendirinya. Prosesnya berlangsung melalui reaksi kimiawi enzimatik, yang menempuh beberapa tahapan reaksi (reduksi-oksidas), lalu dibuang melalui organ hati, ginjal, usus, paru-paru, dan otak.

Berbeda dengan orang dulu, selain tingkat pencemaran lingkungan yang semakin buruk, pemakaian bahan kimia dalam industri, serta zat tambahan dalam makanan dan minuman, maka tubuh orang sekarang sudah lebih banyak dan beragam cemaran yang membentuk racun toxicant dalam tubuhnya. Perlu kerja ekstra tubuh untuk mengeluarkannya. Bila tidak, toxin maupun toxicant berpengaruh buruk pada tubuh. Sebut saja berubahnya sifat sel (mutagen) selain sifat carcinogen kedua racun itu, berpotensi mencetuskan terjadinya kanker.

Kita menyaksikan tubuh orang sekarang sudah dimasuki oleh pelbagai zat yang tidak bersesuaian dengan tubuh, sengaja atau tidak disengaja. Tubuh menerima bahan yang asing dan tidak akrab bagi dirinya. Logam berat yang memenuhi lingkungan, sehingga berakumulasi dalam darah membutuhkan upaya medis chelation untuk membantu mengeluarkannya, oleh karena bila tidak, akan berpengaruh buruk pada tubuh. Dengan infus EDTA (ethylenediaminetetraacetic acid) endapan logam berat digelontor. Dalam hal apabila tubuh keracunan secara medik, bisa diberikan antidote-nya. Bila fungsi ginjal menurun, untuk membuang sisa pembakaran dalam darah oleh ginjal, bisa dilakukan dialysis atau cuci darah.

Proses detoksifikasi alami berlangsung pada malam hari. Semua racun sisa pembakaran dibuang pada waktu kita tidur. Ada jam-jam kapan racun tubuh dikeluarkan usus, paru, ginjal, hati, dan otak. Dan untuk berlangsungnya proses pengeluaran racun secara alami itu, yang melalui tahapan reaksi enzimatik, dibutuhkan sejumlah vitamin dan mineral, antara lain vitamin A, B2, B3, C, E, folic acid, calcium, zat besi Fe, copper, Zn, magnesium, selenium, yang bila tubuh sampai kekurangan, maka proses pengeluaran racun tubuh bisa terhambat.

Selain itu kondisi rata-rata tubuh orang sekarang sudah kebanjiran aneka macam cemaran lingkungan, terutama dari apa yang mereka makan dan minum berupa zat additive yang nyaris semua tidak akrab dengan tubuh, sehingga tubuh harus lebih berat untuk mengeluarkannya. Selama tubuh masih memiliki kemampuan untuk self-cleansing, dan proses tahapan enzimatik masih berlangsung normal, yakni selama masih kecukupan asupan vitamin dan mineral yang membuat proses reaksi enzimatik bisa berlangsung, serta fungsi organ hati, ginjal, usus, paru, dan otak yang mengeluarkannya masih memadai, maka pembuangan semua racun yang menumpuk dalam tubuh, baik biotoxin maupun xenobiotic toxicant, akan terbuang sendirinya, tanpa perlu dibantu.

Yang umum terjadi pada tubuh orang sekarang lebih banyak dicemari oleh bahan kimia yang bukan saja tidak diperlukan, bahkan berlebihan, seperti obat-obatan, alkohol, serta cemaran logam berat. Pada saat yang sama menjadi hal yang lumrah bila kebanyakan orang sekarang kekurangan jam tidur. Kita tahu pada saat mana proses detoksifikasi alami berlangsung. Selain itu rata-rata tubuh orang sekarang cenderung kekurangan vitamin mineral akibat memilih menu ampas (junk food dan fast food), yang kandungan vitamin mineral (trace-elements) sudah sangat berkurang akibat proses pengolahan, penyimpanan, maupun cara panen. Badan besar tapi kalau diperiksa darah ada sejumlah nutrient yang kurang (Hidden hunger).

Ketiga faktor itulah, kebanjiran cemaran, kekurangan jam tidur, dan kekurangan vitamin-mineral, yang bisa berakibat menumpuknya racun yang gagal dikeluarkan secara alami oleh tubuh. Maka kemudian bermunculan cara-cara alternatif, bagian dari complementary medicine. Sebut detox foot pads, oil pulling, snake stones, body cleansing, water fasting, sampai kuras usus, selain cara diet, herbal, maupun ionic electromagnetic. Pihak medik masih menyangsikannya, selain menganggap tidak perlu.

Yang bisa kita lakukan, kembalikan tubuh kita mendekati kondisi alami sebagaimana sediakala dialami nenek moyang kita dulu. Seberapa bisa membatasi tidak tercemar oleh cemaran lingkungan, dengan menghindar dan tidak mempergunakan bahan-bahan kimia. Pilih mengonsumsi yang lebih alami, sayur-mayur dan bebuahan organik, mengonsumsi bukan menu olahan melainkan menu alami.

Mengubah menu yang serba kelebihan manis, kelebihan asin, dan kelebihan lemak dengan menu nenek moyang kita. Itu maka ubi rebus lebih menyehatkan ketimbang donat, dan steak tidak lebih menyehatkan dibanding nasi rames. Terigu, gula pasir, mentega, minyak goreng untuk donat tidak lebih menyehatkan dibanding serat (fiber) dalam ubi, serta vitamin yang dikandungnya, selain hormon awet muda DHEA (dehydroepiandrosterone). Asupan protein dari steak daging melebihi yang diminta tubuh, sehingga ginjal kerja keras untuk membuang ampasnya.

Tertib dalam jadwal harian, baik waktu makan, waktu kerja, dan waktu jeda, selain waktu tidur, sehingga mesin tubuh berlangsung sebagaimana yang menjadi kodratnya. Ada jam kapan harus mencerna makanan, kapan lambung dan usus istirahat. Demikian pula kapan semua mesin tubuh tidak terbeban berat selama jam tubuh terjaga dengan memberinya cukup istirahat dan tidur. Dengan demikian proses alami pengeluaran racun menjadi lebih lancar, dan upaya mendetoksifikasi tidak diperlukan.

Salam sehat,
Dr HANDRAWAN NADESUL